CollegerRadio

Start at 01.00pm

Kirim lagu beserta profil band kamu ke

admin@e-campusradio.asia

Info Beasiswa?

Dengerin CollegerRadio

Tempatnya Tips dan Trik Beasiswa?

Ya CollegerRadio

Tuesday, May 21, 2013

7 Tahap Pemilihan Jurusan

Bisma Ridhowi. (Foto: dok pribadi)Colleger Radio - JURUSAN dalam bangku kuliah merupakan kompas bagi mahasiswa selama menyelesaikan masa studinya. Tak hanya sampai di situ, jurusan itu pulalah yang menentukan bagaimana masa depan dari agent of change tersebut.

Ada yang mengatakan memilih jurusan itu gampang. Di sisi lain tak sedikit yang mengatakan butuh pertimbangan ekstra untuk mengetok palu bahwa "Aku memilih jurusan ini". Dengan memilih jurusan yang tepat harapannya proses pembelanjaran selama kuliah menjadi lancar dan mudah.

Begitu pula saat lulus nanti, diharapkan lulusan jurusan tersebut memiliki peluang kerja yang menjanjikan. Lantas, bagaimana cara memilih jurusan yang tepat?

Pertama, pastikan dulu apa passionmu. Passion banyak diartikan sebagai kombinasi antara kenikmatan dalam menjalankan aktivitas tertentu yang mengandung makna dan dilakukan dengan penuh perasaan. Tanpa passion, maka segala yang dilakukan hanyalah formalitas.

Tidak ada rasa bahagia melakukannya, tidak ada rasa bangga telah menyelesaikannya, dan aktivitas tersebut terasa tidak bermakna. Contoh sederhana, jika passionmu di bidang seni dan sastra Indonesia maka pilihlah sastra Indonesia sebagai jurusanmu.

Kedua, pelajari dulu apa yang akan didapatkan ketika mengambil jurusan tersebut. Saat ini, banyak media elektronik yang memanjakan para penggunanya untuk mengakses segala bentuk informasi. Jangan sampai harapan akan mendapatkan sesuatu di jurusan tersebut menjadi sebuah penyesalan sebab tidak sesuai dengan perkiraan.

Ketiga, lihat peluang kerja saat lulus nanti dari jurusan yang dipilih. Hanya ada dua pertimbangan untuk bekerja, yaitu negeri dan mandiri. Pertimbangkan kedua hal tersebut secara matang bahwa kamu akan memilih kerja di mana. Tak hanya sampai di situ, pikirkan kembali peluang kerja dari jurusanmu itu selama minimal lima tahun ke depan atau bahkan 10 tahun ke depan agar dapat memberikan kepastian ketebalan dompetmu saat lulus nanti.

Keempat, hitung seluruh biaya yang akan kamu keluarkan selama menyelesaikan studi di bangku kuliah. Biaya yang dihitung tersebut mulai dari biaya pendaftaran, registrasi, SPP, sumbangan, kelulusan, tempat tinggal, makan, dan biaya tak terduga lainnya. Dengan mengetahui prakiraan biaya yang dibutuhkan, maka kamu akan mempersiapkannya lebih matang, termasuk orangtua yang akan menjadi donatur tunggal selama kuliah.

Kelima, jika kamu memang bersikukuh untuk memilih jurusan tersebut namun ekonomi tak mendukung, maka pastikan jurusan tersebut menawarkan banyak beasiswa mulai dari beasiswa prestasi, beasiswa bagi mahasiswa yang kurang mampu, dan beasiswa untuk tugas akhir, yang mampu menopang biaya yang dibutuhkan. Dengan demikian, kamu tidak akan kerepotan lagi soal biaya.

Keenam, pastikan universitas yang menaungi jurusan yang kamu pilih tersebut sesuai dengan spesifikasi yang kamu inginkan. Misal, idealnya jurusan tersebut laboratorium bioteknologi untuk mendukung proses pembelajaran, namun laboratorium tersebut belum ada atau bahkan perlengkapannya belum memadai.

Ketujuh, bicarakan semua keinginanmu itu kepada orang tua. Jangan mengambil keputusan secara sepihak. Sebab terkadang orang tua juga memiliki pandangan lain tentang jurusan yang akan kita pilih. Bicarakan pula kepada guru konseling di SMA atau kakak angkatan yang sudah susuk di bangku kuliah agar mendapat banyak pandangan sehingga final choice yang diambil tidak membuat menyesal di kemudian hari.

Semoga tujuh pertimbangan di atas bisa membantu kamu yang akan masuk dunia mahasiswa. Selamat berjuang dan sukses selalu!

Bisma Ridhowi
Mahasiswi Fakultas Teknologi Pertanian
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Read more ...

Indonesia Kurang Sadar Budaya Tulis Menulis

Ilustrasi. (Foto: fanpop)Colleger Radio - HARI ini, sejarah tidak lagi hanya bisa dipahami dan dikonstruksi oleh otoritas akademik yang mengelu-elukan obyektifitas. Sejarah tidak pula harus dimaknai sebagai puncak-puncak kejadian pada periode tertentu.

Kini, setiap orang bisa menulis sejarahnya masing-masing, karena setiap kita hari ini, yang terdiri atas pelbagai subyek, adalah sejarah yang belum tuntas. Atas dasar itu maka perjalanan hidup seseorang memiliki potensi untuk menjadi bagian dari refleksi kehidupan atas kehidupan orang lain.

Masalahnya, kita belum memiliki budaya tulis sekaligus kesadaran pengarsipan yang baik. Sebagai subyek, kita begitu malas mencatat setiap kejadian, sehingga kita menjadi orang-orang yang amnesia dengan kehidupan kita sendiri, apa lagi melacak sejarah orangtua kita terdahulu.

Jadi, ketika saya bertemu dengan buku (auto)biografi yang akan kita bahas ini, yang pertama-tama harus kita posisikan adalah penulisnya sadar betul bahwa ia hendak melawan lupa.

Ketika diamanahi untuk mengulas buku ini, sebetulnya saya tidak memiliki kompetensi yang lebih untuk membincangkannya, terutama dunia politik. Apa yang diungkapkan oleh Suryatati bahwa "politik itu kejam tak mengenal kawan dan lawan, yang penting tujuannya tercapai", membuat saya makin ngeri saja membayangkannya.

Namun disukai atau tidak, tema politik sudah menjamah aspek kehidupan kita dan kita memang tidak bisa mengindar darinya. Ketika membaca tulisan-tulisan Suryatati A Manan yang terhimpun dalam buku Perempuan Melayu yang Tak Pernah Layu, saya merasakan betul bagaimana alur kehidupan yang fluktuatif tersirat di dalamnya.

Refleksi kehidupan yang dialami oleh sang penulis, seperti marah, bahagia, kecewa, begitu terkomunikasikan dengan baik. Sebagai pembaca, secara emosional, saya dapat menangkap pesan-pesan yang hendak dikemukakannya.

Pemimpin Perempuan
Di dalam tulisan sederhana ini, saya tak hendak lebih jauh membicarakan tentang peristiwa politik yang tidak terlampau saya kuasai. Hal yang menarik dalam sudut pandang keterbacaan saya adalah bagaimana Suryatati merepresentasikan dirinya sebagai seorang pemimpin perempuan. Kesadaran sebagai perempuan (yang feminis) sangat tergambar di dalam tulisannya.

Misalnya ia gusar ketika dogma-dogma kebudayaan patriarki masih sering dihembuskan, terutama ketika pemilihan kepala daerah. Perempuan masih dianggap sebagai kelas dua. Kesadaran melawan hegemoni dominan dijawab melalui bukti-bukti yang konkret dalam masa kepemimpinannya menjadi Walikota Tanjungpinang; terbukti pada Pilkada walikota priode 2008-2013 ia mendapatkan dukungan dari masyarakat dan tercatat pada Rekor MURI dengan persentase suara 84,25 persen.

Dukungan yang luar biasa dari masyarakat Tanjungpinang tentu tak semata-mata hanya dilihat dari mesin politik. Saya kira wujud pemimpin perempuan yang tersubstitusi dalam diri Suryatati-lah yang menjadi dominan. Terlepas dari budaya kita yang masih mengusung dominasi laki-laki dalam konteks kepemimpinan, sosok perempuan yang memiliki sensitivitas lebih baik dalam "menyentuh" masyarakat, akan menghadirkan rasa nyaman. Dan itulah yang dibutuhkan oleh masyarakat kita hari ini.

Sebagai bukti konkret, hal itu bisa dilihat dari kutipan di bawah ini, terutama percakapan antara Suryatati sebagai Walikota kepada Raja Mukmin, komandan Satpol PP dalam mengeksekusi pedagang kaki lima, kadang-kadang ada rasa tak tega dan tak manusiawi rasanya melihat ibu ibu harus lari pontang panting menyelamatkan barang dagangannya. Oleh sebab itu saya selalu berpesan kepada Raja Mukmin komandan lapangan, agar tidak menggunakan kekerasan, saya katakan "Min, awak kalau melakukan penertiban  jangan main sepak sepak ye".

Mukmin menjawab "macam mane bu, Min geram dibuatnye. Kalau ade kite, mereke tak jualan ,tapi kalau kite tak ade  mereke jualan macam 'nak gile ". Ye Min, tapi kan ade surat teguran, kasi aje surat teguran , nanti kalau sampai tiga kali ditegur tak mempan juge bise disidang. Pokoknya tak usah disepak sepak.

Selain Suryatati, sebetulnya sudah mulai banyak perempuan yang menjadi Bupati, Walikota atau Gubernur pasca era Otonomi Daerah. Hanya perbedaannya terletak pada proses kesadaran sebagai seorang perempuan.
Peduli Kebudayaan

Selain dunia politik, satu hal yang membuat Suryatati dikenal oleh khalayak adalah kepeduliannya terhadap kebudayaan, terutama seni tradisi (pantun, gurindam). Bahkan pada suatu kesempatan, bersama sahabatnya Martha Sinaga, Suryatati membacakan pantun-pantunnya di Taman Bacaan Rumah Dunia dan menghibur warga kampong Ciloang, Banten.

Beberapa budayawan, termasuk akademisi seperti Prof. Yoyo Mulyana yang melihat peristiwa estetik yang cukup langka tersebut, berdecak kagum akan dedikasi Suryatati terhadap budaya pantun.

Di dalam tulisannya, Suryatati memang memiliki misi untuk membuat ikon baru. Tepatnya pada 29 April 2008 pukul 20.00 WIB bertempat di Graha Budaya Taman Ismail Marzuki Jakarta, Suryatati didampingi para seniman dan budayawan, mendeklarasikan "Tanjungpinang kota gurindam negeri pantun".

Mengembalikan sebuah wilayah pada akar tradisinya adalah tindakan yang cukup berani. Ia mahfum betul bahwa ikon ini akan menumbuhkan jati diri kota dan masyarakatnya. Sekarang ini, dalam konteks kebudayaan popular, di mana produk-produk massa menghimpit masyarakat kita, memang kesadaran untuk kembali pada tradisi lokal adalah pilihan yang cukup cerdas.

Jika hal ini tidak segera diantisipasi, sekira 10-20 tahun mendatang, bisa jadi kita akan kehilangan identitas lokal yang justru menjadi pembeda dengan wilayah lain. Intinya, pembangunan fisik harus disertai dengan pembangunan kultural.

Firman Venayaksa
Dosen dan Sastrawan Banten
Kandidat Doktor UI
Read more ...

Monday, May 20, 2013

SBY: Abad 21, Era Kebangkitan Kaum Muda

Ilustrasi. (Foto: Heru Haryono/okezone)Colleger Radio - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengungkapkan jika abad 21 menjadi era kebangkitan bagi para kawula muda. Ungkapan yang diucapkannya seiring dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-105, Senin 20 Mei.

SBY pun mengajak kaum muda untuk bangkit menyongsong abad 21 dengan optimisme, bahwa seluruh bangsa Indonesia mampu menyongsong abad 21 menghadapi tantangan-tantangannya.

"Kebangkitan nasional era kini adalah kebangkitan kaum muda songsong abad 21. Kita harus bisa! #IndonesiaBisa," demikian tulis Presiden SBY melalui akun twitternya @SBYudhoyono, seperti dikutip dari laman Setkab, Senin (20/5/2013).

Di sisi lain, SBY menegaskan logo peringatan ke-105 tahun Hari Kebangitan Nasional 2013 adalah "105 Tahun Kebangkitan Nasional. Indonesia Bisa!".

Sekadar informasi, di Kompleks Istana Kepresidenan sendiri berlangsung Upacara Peringatan Hari Kebangkitan Nasional yang dipimpin oleh Sekretaris Menteri Sekretaris Negara Lambok V Nahattands, sebagai inspektur upacara.

Upacara bendera meliputi pengibaran Bendera Sang Saka Merah Putih, menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, mengheningkan Cipta, pembacaan Pancasila, Pembukaan UUD 1945.

Kemudian dilanjutkan pembacaan naskah pidato Menteri Komunikasi dan Informatika menyambut 105 Tahun Peringatan Hari Kebangkitan Nasional oleh Inspektur Upacara.

Hari Kebangkitan Nasional ke-105 Tahun 2013 bertema "Dengan Semangat Kebangkitan Nasional, Kita Wujudkan Demokrasi Berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 Menuju Indonesia Yang Manu dan Modern Dalam Bingkai NKRI". Berslogan Indonesia Jaya, Indonesia Maju dan Modern.

Tujuan dari peringatan Harkitnas 2013 adalah untuk terus memelihara, menumbuhkan dan menguatkan jiwa nasionalisme kebangsaan kita sebagai landasan dasar dalam melaksanakan pembangunan, menegakkan nilai-nilai demokrasi berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 untuk mempercepat terwujudnya visi dan misi bangsa kita ke depan dalam bingkai NKRI.
Read more ...

Harkitnas Jadi Momen Pecut Perjuangan Generasi Muda

Ilustrasi. (Foto: Heru Haryono/okezone)Colleger Radio - Pemerintah Kota Depok menggelar upacara hari kesadaran nasional Mei dirangkai hari pendidikan nasional dan hari kebangkitan nasional ke-105 tahun 2013 tingkat Kota Depok, Senin 20 Mei.

Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail membacakan sambutan Menteri komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Tifatul Sembiring. Ia mengatakan, dengan memahami sejarah, akan menanamkan etos perjuangan bagi generasi berikutnya.

"Yaitu perjuangan bangsa Indonesia ke depan untuk menjadi negara maju, modern, adil, dan sejahtera. Inilah cita-cita bersama yang mesti diwujudkan. Melalui peringatan Harkitnas ini, marilah kita kenang kembali bagaimana semangat perjuangan The Founding Fathers kita, untuk diambil sebagai teladan bagi generasi muda. Mereka telah berjuang tanpa pamrih, penuh pengorbanan, kesabaran dan keberanian mengusir penjajah dari bumi pertiwi ini," ujarnya dalam sambutannya, Senin (20/5/2013).

Nilai-nilai Harkitnas tersebut, kata Nur Mahmudi, masih relevan sepanjang masa yaitu membangun dan memelihara kebersamaan dan persatuan, para pemuda berhimpun dalam organisasi tanpa menonjolkan semangat kedaerahan. Perjuangan para mahasiswa terumuskan dalam ikrar satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Sebuah gagasan agung yang begitu brilian.

"Tantangan yang dihadapi pada abad ke-21 ini bukan lagi dalam bentuk penjajahan, tetapi berupa globalisasi. Akan diuji daya saing dan keunggulan bangsa ini di tengah-tengah ajang kompetisi antarbangsa. Kondisi di mana tapal batas antar-negara seolah pupus. Dimensi ruang dan waktu seakan runtuh. Dunia seakan terasa datar, menjadi satu kesatuan," kata Nur Mahmudi menyampaikan pidato Menkominfo.

Ia menambahkan momentun Harkitnas ini harus mampu melecut kembali nilai kebersamaan sebagai bangsa dalam menghadapi globalisasi dengan menggelorakan rasa bangga dan Cinta Tanah Air. Generasi muda harus menjadi pejuang dan petarung yang tangguh bagi kejayaan bangsa.

"Karena sesungguhnya kita semua telah mewarisi darah dan jantung para pejuang yang gagah berani melawan musuh penjajah. Tidak ada bangsa yang akan maju tanpa perjuangan keras. Tidak ada bangsa yang akan majutanpa pengorbanan. Dan Tuhan tidak akan merubah nasib suatu bangsa, kecuali mereka berusaha mengubah diri mereka masing-masing," paparnya.

Untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) setiap elemen harus meletakkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan kelompok.  Harkitnas mampu dirakit menjadi perahu kokoh untuk mendekatkan bangsa Indonesia menjadi lebih maju dan lebih modern.

"Saya pribadi berpesan agar para orangtua bersungguh-sungguh mendidik anak-anaknya menjadi generasi pintar dan soleh, memberikan pemahaman tentang lingkungan sekitar mereka, agar mengikuti hal-hal baik, dan menghindari yang buru," jelasnya.

Nur Mahmudi meminta agar para anak didik lebih bijaksana dalam memanfaatkan kemajuan teknologi, dan digunakan kepada hal-hal yang meningkatkan prestasi. Para guru juga diimbau agar membimbing dalam penggunaan kemajuan teknologi untuk mengarahkan kepada hal-hal yang positif dan berguna.

"Hal tersebut dilakukan dalam rangka menuju Depok Cyber City demi mencapai kemajuan generasi bangsa. Bahkan home visit perlu dilakukan dalam rangka pembinaan kepada anak-anak yang bermasalah, demi membangkitkan semangat dan memajukan generasi muda Indonesia," tandasnya.
Read more ...

Mahasiswa Harus Bisa Hidup di Desa!

Ilustrasi. (Foto: Runi Sari/Okezone)Colleger Radio - Semakin maju era teknologi saat ini membuat paradigma Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) bergeser maknanya, yakni bukan untuk mengajari masyarakat.

Sudah pasti, hal ini tidak mungkin dapat mengubah pandangan masyarakat hanya dalam satu bulan. Mahasiswa harus dapat merasakan bagaimana kehidupan masyarakat di desa, serta belajar banyak mengenai berbagai aspek yang positif di masayarakat.

Hal itu dikatakan Rektor Univeristas Bung Hatta, Prof. Dr. Niki Lukviarman, SE, Akt. MBA saat membuka pembekalan KKN-PPM Universitas Bung Hatta Periode III, di Aula Balairung Caraka, Kampus I Ulak Karang Padang, Sumatera Barat.

Ia juga mengatakan perubahan paradigma serta tata laksana KKN-PPM akan menuntut mahasiswa untuk bisa memahami kondisi masayarakat dan memahami permasalahan yang terjadi di masayarakat sehingga dalam prakteknya mahasiswa jangan sampai memberikan mimpi-mimpi kepada masyarakat untuk kemajuan desa.

"Dalam KKN nanti mahasiswa akan berada dalam lingkungan dan kondisi yang berbeda dengan lingkungan kampus, maka adaptasi serta pemahaman atas untuk apa dan sebagai apa mereka berada di tengah-tengah mayarakat itu sangat penting, sehingga tidak terlihat seperti mengajari masayarakat," ucapnya.

Ketua Pengelola KKN-PPM UBH Indra Khaidir, menyebutkan, pembekalan tersebut di ikuti sebanyak 1.264 mahasiswa yang akan disebar pada 43 Kenagarian di lima kabupaten di Sumatera Barat yaitu Kabupaten Agam, Tanah Datar, Padang Pariaman, Dharmasraya, dan Sijunjung. Pemberangkatan dan pelaksanaannya di lapangan akan dimulai pada 1 Juli sampai dengan 2 Agustus 2013.

"Pembekalan sendiri akan berlangsung tiga tahap, yakni pembekalan umum berlansung pada 18-19 Mei, pembekalan dosen pendamping pada 22 Mei, dan pembekalan mahasiswa peserta KKN-PPM oleh dosen pendamping sampai dengan 9 Juli," pungkasnya.
Read more ...

Saturday, May 18, 2013

Dengan Rp50 Ribu, Hemat BBM dari Air & Soda Kue

Alat penghemat BBM buatan SMUN 1 Bawang, Banjarnegara. (Foto: Elis Novit/Sindo TV)Colleger Radio - Sejumlah siswa SMU di Banjarnegara Jawa Tengah berhasil membuat alat yang mampu menghemat konsumsi BBM hingga 30-50 persen. Alat tersebut pun tergolong sangat sederhana dan mudah dibuatnya. Seperti apa ya hasil kreativitas anak-anak SMU ini?

Keputusan pemerintah akan menaikkan harga BBM, hingga saat ini belum terjadi. Namun sejumlah masyarakat mulai merasa resah akan kenaikan harga BBM tersebut.

Di tengah kekhawatiran masyarakat akan kenaikan BBM, sekelompok siswa SMU Negeri 1 Bawang Banjarnegara Jawa Tengah berhasil menemukan alat penghemat BBM. Alat yang disebut Hidrogen Transfer ini konon mampu menghemat konsumsi BBM jenis sepeda motor hingga 40 persen.

Alat penghemat BBM ini cukup sederhana. Hanya memanfaatkan jeriken bekas dan slang air. Bahan-bahan yang dibuatnya antara lain soda kue, air mineral, dan plat besi.

Sistem kerja alat ini menyempurnakan proses pembakaran pada ruang bakar dengan proses hidrolisa atau penguraian H2O menjadi hidrogen dan oksigen.

Oksigen akan dikeluarkan dalam selang pembuang, sedangkan hidrogen masuk ke ruang vakum pembakaran kendaraan. Sehingga pembakaran kendaraan bermotor akan lebih sempurna dan terjadi efisien bahan bakar hingga 40 persen.

Alat sederhana ini juga dilengkapi dengan lampu indikator. Jika lampu menyala dan terjadi gelembung dalam air dan plat besi berarti alat telah bekerja sempurna. Untuk membuat alat ini tidaklah mahal, cukup mengeluarkan uang Rp50 ribu saja.

Namun hingga saat ini, sejumlah siswa masih menemukan kendala. Alat ini hanya efektif dan mampu digunakan dalam batas maksimal kecepatan kendaraan 60 kilometer (km) per jam. Namun demikian, penemuan siswa ini patut diacungi jempol dan tentu masih butuh penyempurnaan agar bisa diterapkan untuk masyarakat.
Read more ...